Showing posts with label Terjemahan. Show all posts
Showing posts with label Terjemahan. Show all posts

Saturday, 26 October 2019

Quick Question series: Salvation



Pertanyaan :
Dalam Yohanes 3:16 Yesus berkata, " Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." Sudah jelas bahwa Alkitab menolak pandangan Katolik tentang keselamatan oleh iman ditambah karya. Ayat tersebut mengajarkan keselamatan hanya karena iman. Yang harus Anda lakukan adalah percaya, titik.


Jawaban :
Pertama-tama, pandangan Katolik tentang keselamatan bukanlah iman plus karya, jika karya yang Anda maksud adalah murni usaha manusia untuk mendapatkan perkenan Allah.

Katolik percaya bahwa keselamatan adalah karena anugerah, namun anugerah tidak harus dilawan, baik sebelum pembenaran (yaitu dalam keadaan tidak percaya) atau setelah pembenaran (dengan terlibat dalam dosa yang serius [tamb. : walaupun saat dalam keadaan terbenarkan seseorang tahu tentang apa yang menjadikan berdosa]). Baca hati-hati 1 Korintus 6, Galatia 5, dan Efesus 5.

Kedua, Alkitab tidak menggunakan istilah "pembenaran karena iman" atau "keselamatan hanya karena iman." Yang pertama adalah penemuan langsung Luther, yang kedua adalah temuan Luther melalui implikasi. Luther memasukkan "hanya" ke dalam terjemahan Jerman Roma 3:23 untuk memberikan kepercayaan pada doktrin barunya.

Tapi pertanyaan di atas berhubungan dengan Yohanes 3:16. Ya, ayat ini berbicara tentang daya penyelamatan oleh iman, tetapi tidak dalam arti mengurangi peran ketaatan kepada Kristus dalam proses menuju ke surga.

Bahkan, ayat tersebut mengasumsikan itu. Sama seperti fundamentalis mengabaikan ayat-ayat berikutnya sehubungan dengan apa arti sesungguhnya mengenai dilahirkan dari air dan Roh Kudus - mereka mengabaikan bagian air, yang mengacu pada baptisan - mereka juga mengabaikan konteks ketika menafsirkan kata-kata Kristus tentang memperoleh hidup yang kekal dalam Yohanes 3:16.

Dalam Yohanes 3:36 kita diberitahu, " Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya."

Hal ini meluas kepada Yohanes 3:16. Ini adalah cara lain untuk mengatakan apa yang dikatakan Paulus di Roma 6:23: "Sebab upah dosa adalah maut, tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita."

Meskipun kita tidak bisa mendapatkan perkenan Allah yang tidak melihat jasa kita, kita dapat menolak kasih-Nya dengan dosa-dosa kita (yaitu, dengan karya-karya jahat kita) dan dengan demikian kehilangan hidup kekal yang secara bebas Ia tawarkan kepada kita dalam Kristus.

http://www.catholic.com/thisrock/quickquestions/keyword/salvation/page6

Tuesday, 11 September 2018

“MARIA DIVINE MERCY”, Suatu Muslihat Iblis yang Berbahaya


Source: https://stth.hwcdsb.ca



“Saya seorang Imam exorcist dengan pengalaman 15 tahun. Saya memiliki ijin untuk membagikan cerita ini.

“MARIA DIVINE MERCY”, Suatu muslihat iblis yang berbahaya

Saya sekarang memiliki ijin untuk mengatakan hal-hal berikut. Beberapa saat lalu saya menolong seorang wanita yang biasa membaca pesan-pesan palsu tersebut. Wanita ini telah dirasuki oleh banyak roh jahat. Saya tidak dapat mengatakan berapa banyak. Saya telah menjalani beberapa sesi dengannya, dengan seorang Imam lain dan seorang wanita awam yang hadir untuk dapat memberi kesaksian tentang apa yang harus saya katakan.

Wanita ini datang pada saya segera setelah ia berhenti membaca pesan-pesa palsu tersebut. Alasan ia berhenti adalah karena ia merasa “mati secara spiritual” meskipun telah mendoakan doa-doa yang direkomendasikan oleh pesan-pesan tersebut, termasuk Rosario, dan ia menyadari bahwa ia tidak tumbuh dalam iman dan sebagainya. Ia merasa tidak senang dengan keadaan tersebut dan dengan dengan segera sakit secara aneh. Segera setelah ia berhenti ia diserang oleh roh jahat. Ia merasakan kehadirannya dan ia menyadari bahwa ia butuh bantuan.

Saat ia datang pada saya, tampaknya ada beberapa masalah-masalah lain – masalah-masalah yang telah dimilikinya sebelum ia mulai membaca pesan-pesan tersebut. Saat ini kami masih belum sampai dasar dari masalah-masalah tersebut.

Pada sesi pertama saya secara khusus berdoa untuk melawan segala roh yang telah mendatanginya melalui Maria Divine Mercy. Pada saat tersebut ia mulai tersentak dengan marah di kursinya dan terlempar ke lantai di mana ia mulai merangkak berkeliling dan berteriak-teriak. Saat saya berlutut di sampingnya saya berdoa untuk melawan roh Izebel – roh yang diasosiasikan dengan nubuat palsu. Saat saya melakukan hal tersebut, mata wanita tersebut memandang saya dan menatap lurus pada saya dengan pandangan marah yang nyata. Kami butuh sesi-sesi lanjutan. Pada suatu ketika ia mengeluarkan sesuatu yang “besar” dan saat ia pulang ia berkata, “Sekarang saya senang dengan Paus Fransiskus.”
Saya memahami bahwa saat ia membaca pesan-pesan tersebut ia melukis suatu lukisan religious yang ia percaya bahwa ia telah menerima wahyu untuk melukisnya. Ia menggantung lukisan tersebut di dalam kamar anaknya yang masih kecil. Mulai saat itu anak tersebut diganggu setiap malam. Gangguan tersebut hilang setelah wanita terseut merobek lukisan tersebut dan membakarnya. Setelah itu sang anak tidur dengan nyenyak.

Hal-hal tersebut dan lainnya adalah bukti yang meyakinkan bagi saya bahwa “pesan-pesan” dari Maria Divine Mercy adalah ilham dari iblis.

Wanita ini adalah satu dari empat orang yang telah menghubungi saya karena mereka memiliki masalah-masalah spiritual setelah membaca pesan-pesan yang terkenal tersebut. Seorang lainnya mengatakan pada saya bahwa ia perlu bantuan saya karena ia “merasa jahat”, lainnya berkata pada saya bahwa ia telah “diserang” saat memutuskan untuk berhenti membaca pesan-pesan tersebut.

Anda boleh membagikan informasi ini jika Anda ingin.”

Keterangan: Penulis artikel di atas adalah John Abberton. Berdasar keterangannya sendiri dan juga dari situs https://jkhgadfly.wordpress.com/2015/05/08/exorcist-priest-testifies-maria-divine-mercy-cult-opens-door-to-demonic-possession/ , beliau adalah seorang Imam ekosrsis dengan pengalaman 15 tahun.


Mengapa Saya Tidak Menjadi Anggota Gereja Orthodox


St. Elias The Prophet Ukrainian Catholic Church, Canada


Mengapa Saya Tidak Menjadi Anggota Gereja Orthodox
(Part I)
Pater Brian W. Harrison, O.S.


"Saya menemukan diri saya berada dalam konfrontasi antara dua komunio besar – dua terbesar di antara Kekristenan – yang masing-masing menampilkan diri sebagai pihak yang menerima anugerah infalibilitas."




Perjalanan saya menjadi seorang Katolik mungkin agak unik karena perjalanan spiritual saya menuju Roma melibatkan bagian lain Kekristenan yang cukup besar, yaitu Protestantisme dan Orthodox. Sebagai seorang mahasiswa yang dibimbing oleh pandangan filsafat klasik tentang Sabda (logos) yang hidup (yang oleh Paus Benediktus XVI ditekankan sebagai satu atribut dari Allah di Regensburg 2006), saya melihat ada suatu inkonsistensi yang mendasar dalam logika Kristen Reformasi : Sola scriptura yang menjadi prinsip dasarnya tidak ditemukan di manapun di Alkitab sehingga pandangan tersebut dalam dirinya sendiri adalah kontradiktif.

Saya juga tumbuh dalam keyakinan bahwa jika ada suatu pewahyuan yang benar dan definitive dari Allah kepada manusia, maka karena Allah jelas tidak memutuskan untuk menyatakan pewahyuan ini secara langsung kepada masing-masing individu, Ia mengambil suatu sarana yang dapat dipercaya dan dapat diakses secara terus menerus oleh seluruh manusia sepanjang jaman. Singkatnya, suatu otoritas mengajar yang tidak mungkin keliru. Namun, setelah melalui beberapa bacaan, saya menemukan diri saya berada dalam konfrontasi antara dua komunio besar – dua terbesar di antara Kekristenan – yang masing-masing menampilak diri sebagai pihak yang menerima anugerah infalibilitas. Saya telah lama tahu bahwa Gereja Katolik mengklaim dirinya sebagai pihak yang secara ilahi telah ditunjuk untuk menerima charisma tersebut. Tapi pada tahun 1971, saya menemukan klaim yang sama oleh Keorthodoxan Timur. Saya tiba-tiba melihat Konstantinopel sebagai pihak yang mampu menentang Roma. Mana yang harus saya ikuti?

Tidak Sungguh “Katolik”

Satu hal yang menarik dari Keorthodoxan Timur saat itu adalah bahwa bagi saya imagenya tetap tak ternoda oleh tudingan-tudingan para Calvinist yang telah saya kenal sejak masa muda saya. Tak seorangpun sejauh yang saya tahu menuduh Istanbul sebagai “Babilon Misterius”. Saya juga belum pernah mendengar Keorthodoxan Timur dikaitkan dengan perempuan yang duduk di atas binatang berwarna merah ungu yang penuh hujat. Saya juga tidak pernah melihat tudingan terhadap para Patriarkh Konstantinopel sebagai “si pendusta” – sang anti-Kristus yang memasuki bait Allah dan mengeluarkan kata-kata hujat terhadap Allah dan orang-orang pilihan-Nya.

Namun, setelah mengikuti beberapa liturgy Orthodox Yunani di Sydney (saya seorang warga negara Australia), di mana saya telah berusaha pula bercakap-cakap dengan seorang imamnya, suatu hal baru membuat timbangan berayun ke arah lainnya. Dengan bahasa Inggris yang sangat minim, sangatlah sulit bagi imam untuk berbincang dengan saya tentang hal-hal doctrinal ataupun theologis. Bahkan, ia terlihat heran bahwa saya, seorang “Anglo”, tertarik untuk mengikuti liturginya. Seluruh umat parokinya, di sana di pusat kota besar dan cosmopolitan, adalah etnis Yunani.

Saya dengan segera menyadari bahwa Keorthodoxan dalam kenyataannya tidak sungguh “katolik”. Ia tidak memiliki keterbukaan dan universisalitas cultural, suatu kapasitas yang diperlukan untuk menyediakan rumah yang penuh penerimaan dan nyata bagi seluruh bangsa dan suku bangsa, yang merupakan satu dari empat tanda Gereja yang benar : satu, kudus, katolik dan apostolik. Setiap kata dalam liturgy yang saya hadiri di Sydney, termasuk bacaan Kitab Suci dan khotbahnya, adalah bahasa Yunani, yang sama sekali tidak saya pahami. Thesis bahwa Keorthodoxan Timur adalah agama yang benar telah berubah secara praktis bahwa untuk berbagi hidup yang penuh dan berbuah dalam Tubuh Kristus, seseorang hampir harus berubah menjadi seorang Yunani (dalam beberapa kasus mungkin Rusia, Serbia, Syria – tapi pilihan etnisnya sungguh terbatas). Dan tambahan yang secara de facto membebani ini bertentangan dengan Perjanjian Baru. Di pihak lain, Keorthodoxan menekankan bahwa dalam Kristus tidak ada Yahudi, bangsa asing ataupun Yunani.

Apakah Keorthodoxan Masuk Akal?

Singkatnya, sejauh yang saya lihat saat itu, Keorthodoxan memiliki beberapa kelebihan disbanding Kekatolikan, tetapi juga memiliki beberapa kekurangan. Jadi saya masih sangat belum yakin mana yang hendak saya tuju. Saya merasa mengalami konfrontasi terhadap hal yang sama yang saya hadapi saat saya mencoba memutuskan apakah Protestantisme adalah benar atau salah, yaitu masalah untuk menegosiasikan segunung pemahaman yang bias memakan waktu pembelajaran seumur hidup, jika saya ingin sampai pada jawaban yang definitive. Jika pertanyaan-pertanyaan teologis, eksegesis dan sejarah ini telah mengundang perdebatan dan menghabiskan banyak tinta selama berabad-abad, siapakah saya sehingga beranggapan mampu untuk mencapai jawaban yang pasti tentang pihak mana yang benar? Perdebatan utama yang muncul adalah tentang supremasi Petrus, sebagaimana yang telah diungkapkan dalam Alkitab dan dimanifestasikan dalam tradisi kuno Gereja. Perdebatan ini sungguh terlihat menggunung – dan hasilnya sungguh sangat membingungkan – bagi jiwa muda yang ingin mencari jawaban yang jelas dan pasti ini.

Tak bisa dihindarkan, dalam doa dan usaha pembelajaran saya, saya mulai meragukan apakah ada suatu argument “peluru perak” yang ampuh seperti yang telah saya temukan dalam melihat kefatalan teologi Protestan? Dapatkah suatu jawaban yang jelas muncul saat mempelajari ada tidaknya inkonsistensi logika dasar dari klaim Orthodox? Atau haruskah saya berusaha mengakumulasikan, mengartikan dan mengevaluasi data-data biblical dan historis yang menumpuk tiada batas? Akhirnya saya menemukan apa yang saya yakini sebagai jawaban itu : saya menemukan bahwa Keorthodoxan sungguh fatal dalam menentukan bagaimana kita tahu apa yang telah diwahyukan oleh Allah. Dalam penjelasan selanjutnya saya akan menggunakan serangkaian proposisi sederhana untuk menyatakan bahwa pemahaman Keorthodoxan Timur tentang bagaimana Gereja meneruskan pewahyuan adalah lemah dan menggunakan argument berputar, sehingga menjadi tidak benar.

Pertama, jika Allah memang menganugerahkan karunia infalibilitas kepada Gereja-Nya, maka harus ada suatu otoritas atau suatu agen yang bisa dikenali yang ada dalam Gereja yang digunakan untuk melaksanakan karunia tersebut. Sekarang, Katolik meyakini bahwa Sinode Para Uskup – penerus para rasul yang dipimpin oleh Paus sebagai penerus St. Petrus – memiliki otoritas tersebut. Para uskup dapat melaksanakan karunia tersebut dalam beberapa cara (sebagaimana dijelaskan oleh Konsili Vatikan II dalam Lumen Gentium artikel 25). Seluruh grup (Sinode Para Uskup) dapat mengajar secara infallible, entah tergabung bersama dalam suatu konsili yang ditetapkan sebagai ekumenikal (mewakili seluruh Gereja) oleh Paus, pemimpin Sinode, atau dalam kondisi tertentu, secara tersebar di seluruh dunia. Akhrnya, meskipun berbicara seorang diri, Paus dapat melaksanakan charisma infalibilitas jika melakukannya dalam pernyataan yang paling formal (ex cathedra).

Sekarang, apa pemahaman Orthodox Timur terhadap agen infalibilitas? Keorthodoxan hanya mengenal satu bentuk agen infalibilitas. Mari kita lihat pemahamannya :

Proposisi 1 : Infalibilitas ada dalam keputusan doctrinal meriah (solemn doctrinal decision) dari suatu konsili ekumenis

Namun, apakah Orthodox mengakui otoritas semua konsili ekumenis seperti yang diakui oleh Katolik? Ternyata tidak. Saat saudara terpisah kita yang berada di Timur itu mengklaim bahwa secara prinsip segala konsili ekumenis antara kenaikan Kristus ke surga dan kedatangan-Nya yang kedua memiliki charisma untuk menyatakan ajaran dogmatic yang infallible, mereka hanya mengakui tujuh konsili pertama sebagai ekumenis, yaitu konsili-konsili yang terjadi dalam millennium pertama kekristenan, sebelum terjadi perpisahan antara Timur dan Barat. Dan sungguh, meskipun mereka menganggap diri mereka sebagai Gereja yang benar, sejak perpisahan di abad pertengahan itu mereka tidak pernah berusaha mengadakan atau merayakan konsili ekumenis apapun di lingkungan mereka sendiri, karena mereka tetap mengakui bahwa menurut tradisi kuno Tahta Petrus memiliki suatu primasi tertentu – paling tidak memiliki martabat atau presedensi – bersama pusat kekristenan kuno lainnya (Konstantinopel, Antiokia, Yerusalem dan Alexandria).

Jadi, tholog mainstream Ortodox, sejauh yang saya pahami, akan berkata bahwa selama ribuan tahun kita mengalami situasi infalibilitas yang terhenti. Interupsi terhadap infalibilitas ini, menurut mereka, disebabkan oleh “ambisi”, kengototan”, “keangkuhan” dari para Uskup dala Tahta Petrus, yang mereka sebut telah melampaui batas-batas kelayakan dari kewenangan rendah hati yang telah dianugerahkan kepada Gereja oleh Kristus. Namun mereka juga berkata, bahwa jika Paus Roma mengakui kesalahan fatal ini dan membuang klaim tentang infalibilitas personal serta kewenangannya terhadap Gereja universal, maka skisma yang sungguh tercela tersebut akan tersembuhkan. Seluruh Gereja Timur dan Barat akan kembali dapat melaksanakan konsili ekumenis yang infalibel.

Suatu Proposal tentang Ketidakcukupan

Namun, posisi semacam itu memiliki bermacam permasalahan serius. Saudara terpisah kita di Timur menyatakan bahwa konsili ekumenis yang benar tidak hanya memerlukan kehadiran wakil mereka sendiri, namun juga wakil dari Roma, yang konfirmasinya terhadap dekrit-dekrit konsili akan diperlukan, sebagaimana yang terjadi dalam tujuh konsili ekumenis kuno. Sejauh ini tampaknya bagus. Tapi apakah ini berarti Orthodox menyatakan bahwa konfirmasi Paus terhadap suatu konsili tidak hanya perlu, tapi juga cukup, agar suatu konsili disebut sebagai ekumenis? Sayangnya, jawaban mereka adalah tidak. Dan sejarah Keorthodoxan Timurlah yang membentuk teologi mereka tentang hal tersebut sepanjang paruh millennium terakhir, sebagaimana yang akan kita lihat.

Setelah perpisahan Timur dan Barat diperburuk oleh saling mengekskomunikasi pada tahun 1054 dan penjarahan brutal Konstantinopel oleh para pejuang salib dari Latin di tahun 1204, dua konsili ekumenis diprakarsai oleh Roma dengan tujuan untuk menyatukan perpecahan. Konsili-konsili tersebut diadakan di Lyons pada tahun 1274 dan di Florence pada tahun 1439, dengan Keorthodoxan Timur diwakili oleh para Uskup dan theology yang dikirim dari Konstantinopel. Dan dalam dua konsili tersebut para representative menyetujui secara penuh, termasuk dari Gereja Timur, dekrit-dekrit yang dipromulgasikan oleh konsili-konsili tersebut, yang mengakui kebenaran dan keilahian jurisdiksi para suksesor St. Petrus terhadap Gereja universal Kristus – sesuatu yang lebih dari sekedar gelar kehormatan. Dan dekrit-dekrit tersebut dikuatkan oleh para Paus selanjutnya.

Lalu mengapa kedua konsili ini tidak mengakhiri skisma yang panjang dan tragis? Pada dasarnya adalah karena para delegasi Timur yang hadir di Lyons dan Florence, setelah kembali ke Gereja Timur, tidak mampu melaksanakan dekrit-dekrit tersebut. Di Konstantinopel, pusat dari Kekaisaran Byzantine, sikap penuh curiga bahkan rasa permusuhan terhadap “musuh” Latin mereka tetap tertanam kuat dalam hati dan pikiran dari penduduk mereka – pada semua golongan. Hasilnya adalah bahwa politik dan opini public mengalahkan hasil konsili. Keorthodoxan Timur menolak untuk menerima gagasan agar manusia itu – Uskup Roma yang ditakuti dan dibenci secara luas – memegang jurisdiksi apapun atas hal-hal spiritual dan Gereja mereka.

Sebagai hasilnya, untuk melanjutkan katerpisahan mereka dari Roma, Orthodox harus memperjelas pemahaman mereka terhadap infalibilitas suatu konsili ekumenis. Mereka harus berpegang pada anggapan bahwa partisipasi para Uskuk yang mewakili seluruh Gereja serta konfirmasi hasil konsili oleh Uskup Roma, meskipun sungguh perlu, tapi tidaklah cukup untuk menjamin status ekumenis yang benar pada suatu konsili. Lebih dari itu, mereka juga beranggapan (seperti yang mereka katakan selama beberapa abad terakhir ini) bahwa adalah perlu agar seluruh umat beriman baik di Timur maupun Barat menerima hasil-hasil konsili sebagai pernyataan iman yang benar – tidak cukup pernyataan Uskup Roma beserta para Uskup lainnya, bahkan tidak cukup pernyataan dari seluruh hirarki Gereja. Jadi proposisi pertama diubah menjadi proposisi kedua berikut :

Proposisi 2 : Infalibilitas ada dalam keputusan doctrinal meriah (solemn doctrinal decision) dari suatu konsili ekumenis yang tidak cukup hanya disetujui oleh Kepausan secara ekumenis, tapi juga perlu penerimaan dari seluruh Gereja.

Dalam dunia Barat pasca Pencerahan, di mana oposisi terhadap hirarki, ide-ide tentang demokrasi dan kedaulatan public telah lama menikmati kepopulerannya, eklesiologi Othodox Timur, dengan penekanannya terhadap peran awam, secara alami terdengar menarik bagi banyak orang. Tapi dalam pemahaman lebih lanjut, kekeliruan fatal dalam Keorthodoxan mulai muncul.

Mari kita lihat lebih dekat. Jika factor penting yang menentukan apakah hasil suatu konsili infallible atau tidak adalah tergantung dari penerimaan seluruh Gereja, maka sungguhlah penting untuk mengetahui siapakah “seluruh Gereja” itu? Bagaimana mengidentifikasi anggotanya? Anggota yang mana yang bisa ikut berperan dalam menetapkan apakah suatu hasil konsili infallible atau tidak?

Pertanyaan tentang Keanggotaan

Untuk menjawab pertanyaan ini, teman-teman Orthodox Timur kita tidak bisa (dan memang tidak) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “seluruh Gereja” adalah semua orang yang memiliki iman terhadap Kristus, atau semua orang yang telah dibaptis. Jika mengatakan demikian, maka ketujuh konsili pertama harus dinyatakan sebagai tidak ekumenis sekaligus tidak infallible, karena dalam masing-masing konsili tersebut terdapat beberapa penolakan dari orang-orang yang telah terbaptis (pengikut Arius, Nestorius serta kaum Monophysite), yang juga mengimani Kristus.

Orthodox juga tidak bisa menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “seluruh Gereja” adalah mereka yang berada dalam persatuan dengan Roma, Tahta Petrus, sang Batu Karang, karena mereka sendiri tidak dalam persatuan dengan Roma sejak abad pertengahan. Dapatkah mereka menyatakan bahwa “seluruh Gereja” adalah mereka yang berada dalam persatuan dengan Tahta Konstantinopel? Tidak bisa. Sejauh yang saya tahu, tak ada seorangpun theology Orthodox yang berani menyatakan bahwa keharusan bersatu dengan Konstatntinopel adalah bagian dari wahyu ataupun hukum ilahi, karena Tahta ini sendiri pernah berada dalam heresy untuk beberapa waktu, dan bahkan Tahta ini belum ada selama beberapa abad setelah pewahyuan selesai pada masa para Rasul.

Singkatnya, usaha apapun dari Orthodox untuk menjelaskan siapa itu “seluruh Gereja” akan menempatkan saudara Timur kita itu pada absurditas. Jadi satu-satunya pemahaman logis yang bisa mereka pegang, dan sesungguhnya masih mereka pegang saat ini, adalah bahwa yang dimaksud sebagai “seluruh Gereja” adalah mereka yang berpegang pada doktrin yang orthodox dan benar, suatu kriteria yang sulit untuk diukur. Tidak seperti misalnya kota, perkataan dan sakramen, keorthodoxan suatu doktrin tidak bisa dikenali oleh indera manusia. Hal tersebut hanya bisa dilihat dengan pikiran dan hati. Jadi, jika kita bertanya pada Orthodox mengapa mereka tidak menganggap para pengikut Arius, Nestorius dsb, sebagai bagiand dari “seluruh Gereja” padahal mereka juga mengimani Kristus dan dibaptis, maka mereka akan menjawab, “Karena mereka tidak orthodox. Mereka jatuh dalam heresy sedangkan kami – juga Gereja Roma untuk beberapa waktu – tetap memelihara iman yang benar.”

Sekarang karena posisi Orthodox tentang infalibilitas dan ekuimenisitas suatu konsili telah lebih jelas, kita dapat merumuskan suatu proposisi selanjutnya, dengan mengganti istilah “seluruh Gereja” dengan kata-kata yang lebih jelas, sebagaimana dinyatakan dalam proposisi 3 berikut :

Proposisi 3 : Infalibilitas ada dalam keputusan doctrinal meriah (solemn doctrinal decision) dari suatu konsili ekumenis yang tidak cukup hanya disetujui oleh Kepausan secara ekumenis, tapi juga perlu penerimaan dari seluruh komunitas Kristiani yang memegang doktrin yang benar.

Tapi di sini, saya khawatir kita akan berhadapan secara langsung dengan kekeliruan mendasar dalam logika Orthodox sehubungan dengan bagaimana kita bisa tahu apa yang telah diwahyukan oleh Allah. Karena Kristus mendirikan Gereja-Nya di bumi sebagai suatu komunitas yang tampak, kita tidak dapat menjelaskan siapa Gereja itu dengan suatu criteria yang tidak tampak tanpa jatuh dalam suatu absurditas. Kesalahan ini melibatkan suatu argument berputar, termasuk istilah yang harus dijelaskan dalam penjelasan itu sendiri. Ini berakibat pada suatu tautology : suatu pengulangan preposisi tanpa menyediakan penjelasan sama sekali.

Kita bisa melihat ini secara lebih jelas jika kita mengingat bahwa seluruh tujuan dari suatu kewenangan Gereja yang infallible adalah untuk membimbing umat Kristen dalam membedakan dengan jelas dan pasti antara wahyu yang benar dan kekeliruan serta heresy. Berpegang pada hal tersebut, kita dapat sekali lagi merumuskan proposisi Orthodox Timur, dengan lebih menguraikan apa itu infalibilitas :

Pproposisi 4 : Umat Kristen dapat tahu dengan pasti mana doktrin yang benar dengan berpegang pada keputusan doctrinal meriah (solemn doctrinal decision) dari suatu konsili ekumenis yang tidak cukup hanya disetujui oleh Kepausan secara ekumenis, tapi juga perlu penerimaan dari seluruh komunitas Kristiani yang memegang doktrin yang benar.

Kata-kata yang dicetak miring di atas secara jelas menunjukkan suatu logika berputar – suatu tautology – yang melemahkan logika kristianitas Orthodox Timur. Kita ingin mengidentifikasi dengan pasti mana doktrin Kristen yang benar, tapi solusi yang diberikan adalah kita dianggap sudah tahu mana doktrin Kristen yang benar. Kita diberi penjelasan bahwa “Untuk menemukan mana doktrin Kristen yang benar, kamu harus mendengarkan ajaran mereka yang memegang doktrin Kristen yang benar.”

Tak lama setelah saya sampai pada kesimpulan yang teguh bahwa pendirian Keorthodoxan Timur adalah tidak logis, sehingga tidak bisa mendukung pemahamannya tentang infalibilitas, saya diterima dalam Gereja Katolik dalam Misa Vigili Paskah tahun 1972.

…………

Sumber :



Monday, 10 September 2018

MENGEMBALIKAN KEINDAHAN LITURGI




Kristus telah memilih Gereja sebagai mempelai-Nya. Dalam ikatan kasih perkawinan, Mempelai Kristus menatap mata Sang Mempelai Pria dan berkata, “Keagungan dan semarak ada di hadapan-Nya, kekuatan dan kehormatan ada di tempat kudus-Nya.”(Mzm. 96:6)

Pesta Pernikahan Anak Domba yang dinyatakan dalam Kitab Wahyu sesungguhnya menjelaskan Liturgi Kudus Gereja. Pada puncak ibadat surgawinya, Mempelai Wanita merefleksikan rupa Sang Mempelai Pria – rupa dari Sabda yang menjadi daging, Keindahan yang berinkarnasi.

Bagi dunia, peribahasa “keindahan ada di mata yang melihat” adalah pernyataan subyektif. Bagi Mempelai Kristus, inilah realitas sesungguhnya dari Inkarnasi.

Tetapi secara menyedihkan di masa kita ini, hal-hal yang dangkal dan vulgar menerobos masuk ke tempat kudus kita, mengikuti “citarasa kreativitas dan adaptasi yang salah arah” (Paus Yohanes Paulus II, Ecclesia de Eucharistia, 51). Tidak ada yang lebih penting di masa sekarang ini dibandingkan pemeliharaan keindahan Liturgi Kudus, pemeliharaan kekudusan.

Hans Urs von Balthasar, penulis terkemuka di abad ke-20 mengenai theologi keindahan, mengatakan, “Kita dapat memastikan bahwa siapa saja yang mencemoohkan Keindahan…tidak dapat berdoa dan sesudahnya tidak akan dapat mengasihi.”

Dalam perayaan Liturgi Kudus untuk penghormatan dan keindahan, Gereja harus dapat “membedakan antara hal yang kudus dengan hal duniawi.” Ketika jenis “inkulturasi” yang keliru mencemari ibadat yang liturgis kita harus sadar bahwa “itu tidak valid, itu tidak sah, itu tidak indah.” Hal yang sekuler dan tidak indah seharusnya “tidak memasuki bait Allah.”

Untuk “memelihara sesuatu yang kudus” kita pertama kali harus mengkontemplasikan keindahan Kristus dalam Liturgi Kudus – “suatu tindakan kudus yang melampaui segala hal.” Ini dimulai dari luar dengan tindakan ketaatan terhadap rubrik, dan menuju pada persatuan internal bersama Kristus, karena “barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” (Yoh 4:24). Keindahan spiritual dari Liturgi Kudus mengubah kehidupan umat Katolik. Sungguh, “perjumpaan dengan keindahan dapat menyerupai luka dari anak panah yang mengenai hati dan membuka mata.” Keindahan spiritual ini membentuk hati yang menyerupai Kristus dalam hal keindahan moral. Dan ketika keindahan spiritual dari Liturgi Kudus telah mengubah suatu jiwa, manusia kemudian dapat mengkreasikan hal-hal yang indah, seperti seni rupa, arsitektur, puisi dan musik.

Keindahan buatan manusia ini, dibentuk oleh keindahan Kristus dalam Liturgi Kudus, meneladani kreatif genius dari Allah yang telah membuat dunia ini memiliki keindahan internal. Ketika Wajah Kristus penyelamat kita yang indah dan semarak menjadi pusat ibadat suci, seluruh ciptaan berseru bersama dengan pemazmur : “Agung dan bersemaraklah pekerjaan-Nya,” (Mzm 111:3).

Jika keindahan Misa Kudus tidak bergantung pada keindahan yang mengagumkan dari ikonografi, jubah yang berhias, Gregorian chant ataupun arsitektur Baroque, mengapa Gereja selama berabad-abad telah mengembangkan seni kudus tersebut? Allah telah meletakkan hasrat pada jiwa manusia untuk mengkreasikan keindahan karena Ia menginginkan manusia untuk berperan serta dalam masterpiece ciptaan-Nya, suatu ciptaan yang baik dan indah.

Keindahan dalam liturgi adalah hasil dari aturan. Inilah mengapa liturgi, sesuai sifat dasarnya, menghendaki aturan, dan liturgi tidak dapat ada tanpa rubrik ataupun seremoni. Keindahan bersinar melalui gestur dalam Liturgi Kudus. Maka, gerakan dalam peribadatan, seperti membuat Tanda Salib, berlutut dan membungkuk, merupakan cara untuk menghayati penghormatan dan keindahan dalam kehidupan manusiawi kita.

“Setiap gestur liturgis, yang merupakan gestur Kristus, disebut ekspresi keindahan.” Maka keindahan liturgi meresap dalam hati manusia dan membentuk kita untuk memiliki hubungan yang patut, tidak hanya dengan Allah, tetapi juga dengan tetangga  kita, sehingga memberi menyemangati kita untuk menjelmakan budaya manusia. Inilah arti sesungguhnya dari inkulturasi. Jika kita umat Katolik ingin keindahan liturgi mengubah “culture of death”, kita harus mengijinkan Litugi Kudus membentuk kita melalui rohnya, yaitu Roh Kristus.

Ini berarti bahwa, dalam kerendahan hati, kita harus menjauhkan keinginan untuk membuat Liturgi mengubah tata lakunya. Konsekuensinya, marilah kita menjauhkan inovasi yang tidak sah, impovisasi rubrik serta kreatifitas yang keliru dan dangkal.

Maka, “…Ritus lama menjadi suatu harta karun yang hidup bagi Gereja dan juga menyediakan suatu standar peribadatan, tentang misteri, dan tentang katekesis ke arah mana seharusnya perayaan Novus Ordo menuju. Dengan kata lain, Misa Tridentine adalah suatu missing link. Dan kecuali mencoba menemukan kembali seluruh kebenaran iman dan keindahannya, maka Novus Ordo tidak tanggap terhadap pertumbuhan dan perubahan yang telah menjadi karakteristik liturgi sejak awal.”

------------

oleh Fr. Scott A. Haynes, S.J.C
The Canons Regular of St. John Cantius



Sunday, 9 September 2018

Homili Rm. Raniero Cantalamessa, Pengkhotbah Rumah Tangga Kepausan, pada Jumat Agung di Vatikan, 18 April 2014


Source: https://i.pinimg.com


Dalam sejarah ilahi-manusia tentang kisah sengsara Yesus, terdapat banya kisah-kisah kecil tentang pria dan wanita yang memasuki terang cahaya kisah tersebut atau bayang-bayang gelapnya. Salah satu yang paling tragis adalah kisah tentang Yudas Iskariot. Ini adalah satu dari sedikit peristiwa yang ditekankan dengan penekanan yang sama oleh masing-masing keempat Injil dan kitab-kitab Perjanjian Baru lainnya. Jemaat Kristen perdana merefleksikan kejadian ini dengan sungguh-sungguh dan kita akan menjadi lalai jika tidak melakukannya juga. Kisah ini bercerita banyak pada kita.

Yudas sejak awal telah dipilih untuk menjadi bagian dari Keduabelasan. Saat menyebut namanya dalam daftar para Rasul, Lukas Penulis Injil berkata, "Yudas Iskariot yang kemudian menjadi (egeneto) pengkhianat" (Lk 6:16). Jadi Yudas tidak terlahir sebagai pengkhianat dan bukan seorang pengkhianat saat Yesus memilihnya; ia menjadi pengkhianat! Kita ada di hadapan salah satu drama tergelap tentang kebebasan manusia.

Mengapa ia menjadi seorang pengkhianat? Beberapa waktu lalu, ketika thesis tentang "Yesus yang revolusioner" sedang menjadi tren, orang mencoba memberikan motivasi idealistik pada tindakan Yudas. Beberapa melihat bahwa nama "Iskariot" adalah bentuk lain dari "sicariot", yang berarti bahwa ia adalah salah seorang anggota grup ekstrimis Zealot yang menggunakan semacam belati (sica) untuk melawan Romawi; beberapa orang lain berpikir bahwa Yudas kecewa terhadap cara Yesus mengedepankan konsep "Kerajaan Surga"-Nya dan ingin memaksa agar Ia juga bertindak terhadap orang-orang kafir pada level politis juga. Inilah Yudas dari drama musikal yang terkenal "Jesus Christ Superstar" dan juga dari film-film dan novel-novel saat ini - Yudas yang menyerupai pengkhianat budiman lainnya, Brutus, yang membunuh Julius Caesar untuk menyelamatkan Republik Roma!

Rekonstruksi-rekonstruksi itulah yang ditampilkan dalam beberapa literatur dan nilai-nilai artistik, tapi rekonstruksi-rekonstruksi semacam itu tidak mempunyai dasar sejarah apapun. Keempat Injil - satu-satunya sumber terpercaya yang kita miliki tentang karakter Yudas - berbicara tentang motif yang lebih membumi: uang. Yudas dipercaya memegang kas kelompok; pada peristiwa pengurapan Yesus di Bethany, Yudas memprotes penggunaan minyak parfum yang mahal yang dituangkan Maria ke kaki Yesus, bukan karena ia peduli pada kaum miskin tapi, sebagaimana dicatat oleh Yohanes, "karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya“ (Yoh 12:6). Proposalnya pada Imam-imam kepala juga jelas: "'Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?' Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya” (Mat 26:15).

Tapi mengapa orang terkejut dengan penjelasan ini dan menganggapnya terlalu dangkal? Bukankah memang selalu seperti itu dalam sejarah dan masih juga seperti itu saat ini? Mammon, uang, tidak hanya salah satu berhala di antara banyak berhala: uang adalah berhala par excellence, sungguh-sungguh "ilah tuangan" (lihat Kel 34:17). Dan kita tahu mengapa memang seperti itu. Siapa yang secara obyektif, jika tidak subyektif (kenyataannya, tidak dalam hal niat), musuh sejati, saingan Allah, dalam dunia ini? Iblis? Tapi tak seorangpun memutuskan untuk melayani Iblis tanpa suatu motif. Siapapun yang memilih melayani Iblis melakukannya karena mereka percaya akan memperoleh semacam kuasa atau keuntungan sementara darinya. Yesus memberitahu kita siapa tuan yang lainnya itu, si anti_Allah, yaitu: "Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. . . . Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Mat 6:24). Uang adalah "ilah yang tampak" yang berkebalikan dengan Allah yang benar yang tak tampak.

Mammon adalah si anti-Allah karena ia menciptakan dunia spiritual tandingan; ia menggeser tujuan nilai-nilai theologis. Iman, harapan dan kasih tidak lagi diletakkan dalam Allah tapi dalam uang. Terjadi perubahan yang menakutkan dalam semua nilai-nilai. Kitab Suci berkata, “Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” (Mrk 9:23), tapi dunia berkata, “Segala sesuatu mungkin bagi yang memiliki uang.” Dan dalam level tertentu, seluruh fakta memang menguatkan hal itu.

“Akar segala kejahatan ialah cinta uang ,“ kata Alkitab (1 Tim 6:10). Di balik segala kejahatan dalam masyarakat kita adalah uang, atau paling tidak uang terlibat di sana. Dari Alkitab kita ingat bahwa kepada Molokh anak-anak laki-laki dan perempuan dipersembahkan (lihat Yer 32:35) atau dewa Aztec yang kepadanya perlu dipersembahkan setiap hari sejumlah jantung manusia. Apa yang ada di balik perdagangan narkoba yang menghancurkan begitu banyak hidup manusia, di balik fenomena mafia, di balik korupsi politis, di balik pembuatan dan penjualan senjata, dan bahkan di balik – sungguh hal yang mengerikan untuk disebut – penjualan organ-organ manusia yang diambil dari anak-anak? Dan krisis finansial yang telah dilalui dunia dan masih terjadi di negeri ini, apakah itu bukan merupakan bagian besar dari “rasa lapar yang terkutuk terhadap uang,” auri sacra fames, bagi sebagian orang? Yudas mulai dengan mengambil uang dari kas bersama. Apakah hal ini mengatakan sesuatu pada para administrator tertentu untuk dana-dana public?

Tapi terlepas dari cara-cara criminal untuk memperoleh uang seperti itu, bukankah juga merupakan skandal bahwa beberapa orang menerima gaji dan memperoleh dana pensiun yang kadang 100 kali lebih tinggi dari mereka yang bekerja baginya dan bahwa orang-orang tersebut menyuarakan keberatan saat suatu rancangan diajukan untuk mengurangi gaji mereka demi keadilan social yang lebih besar?

Dalam tahun 1970-an dan 1980-an di Italy, untuk menjelaskan tikungan-tikungan politis yang tak terduga, penggunaan kekuasaan secara sembunyi-sembunyi, terorisme, dan segala jenis misteri yang menyusahkan kehidupan masyarakat sipil, orang mulai menunjuk pada gagasan semu-mitos tentang keberadaan “seorang tua yang besar,” suatu sosok licik dan berkuasa yang memegang segala kendali dari balik tirai demi tujuan-tujuan yang hanya dia sendiri yang tahu. “Orang Tua” yang penuh kuasa ini memang ada dan bukan mitos; namanya adalah Uang!

Seperti semua berhala, uang adalah penuh daya dan berdusta: uang menjanjikan keamanan namun justru mengambilnya; uang menjanjikan kebebasan namun justru menghancurkannya. St. Fransiskus dari Asisi, dengan kekerasan yang bukan menjadi tipenya, menjelaskan akhir hidup dari seorang yang hidup hanya untuk meningkatkan “modal”nya. Kematian sudah membayangi orang tersebut, dan St. Fransiskus dipanggil. Ia bertanya pada orang yang hampir mati itu, “Apakah engkau menginginkan pengampunan atas segala dosamu?” dan ia menjawab, “Ya.” St. Fransiskus lalu bertanya, “Apakah engkau siap memperbaiki segala kekeliruan yang telah kau lakukan, mengembalikan segala sesuatu pada mereka yang telah kau tipu?” Orang yang sekarat itu menjawab, “Aku tidak bisa melakukannya.” “Mengapa tidak bisa?” “Karena aku telah memberikan semuanya pada semua kerabat dan temanku.” Maka matilah ia tanpa pertobatan, dan tubuhnya telah dingin saat kerabat dan temannya berkata, “Terkutuklah ia! Ia bisa memperoleh lebih banyak uang bagi kita, tapi ia tidak melakukannya.”

Berapa kali dalam masa sekarang kita harus melihat kembali pada seruan Yesus yang ditujukan pada orang kaya dalam perumpamaan seseorang yang menumpuk kekayaan tiada henti dan berpikir bahwa ia telah merasa aman sepanjang sisa hidupnya: “Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?” (Lk 12:20).

Orang-orang yang ditempatkan dalam posisi memegang tanggung jawab namun tidak lagi tahu di bank atau surga moneter mana mereka dapat menimbun hasil korupsi mereka telah mendapati diri mereka berada dalam ruang sidang atau dalam suatu sel penjara justru saat mereka akan berkata pada diri mereka sendiri, “Bersenang-senanglah sekarang, jiwaku.” Untuk siapa mereka melakukan semua itu? Apakah hal semacam itu layak dilakukan? Bukankah mereka bekerja demi kebaikan anak-anak dan keluarga mereka, atau kelompok mereka, jika memang hal itu yang mereka cari? Bukankah mereka justru menghancurkan diri mereka sendiri dan orang lain?

Pengkhianatan Yudas terus berlanjut sepanjang sejarah, dan yang dikhianati selalu Yesus. Yudas menjual kepala, sedangkan para penirunya menjual tubuh, karena orang-orang miskin adalah anggota dari tubuh Kristus, entah mereka sadari atau tidak. “sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Mat 25:40). Namun, pengkhianatan Yudas tidak hanya berlangsung dalam kasus-kasus tingkat tinggi seperti yang telah saya contohkan. Sungguh nyaman bagi kita untuk berpikir demikian, namun bukan itu kasusnya. Homili Rm. Primo Mazzolari yang diberikan pada Kamis Putih 1958, tentan “Saudara Kita Yudas” tetaplah terkenal. Ia berkata, “Biarkan saya sejenak berpikir tentang Yudas yang ada dalam diri saya, tentang Yudas yang mungkin ada juga dalam diri Anda.”

Seseorang dapat mengkhianati Yesus demi jenis kompensasi yang lain dan bukan demi 30 keping perak. Seorang pria yang mengkhianati istrinya, atau seorang istri yang mengkhianati suaminya, mengkhianati Kristus. Pelayan Allah yang tidak setia dengan pelayanannya dalam hidupnya, atau dalam menggembalakan domba-domba yang dipercayakan padanya, mengkianati Yesus. Siapapun yang mengkhianati kesadarannya mengkhianati Yesus. Bahkan saya dapat mengkhianati-Nya pada saat ini – dan itu membuat saya gemetar – bahwa saat berkhotbah tentang Yudas saya lebih menaruh perhatian pada persetujuan para hadirin daripada keikutsertaan saya pada penderitaan berat Sang Penyelamat. Ada hal-hal yang meringankan dalam kasus Yudas yang tidak saya miliki. Ia tidak tahu siapa Yesus sebenarnya dan hanya menganggap-Nya sebagai seorang yang baik; ia tidak tahu, sedangkan kita tahu, bahwa Ia adalah Anak Allah.

Saat Paskah terus mendekat setiap tahun, saya ingin mendengar lagi “Passion According to St. Mathew” karya Bach. Karya itu memasukkan satu detil yang selalu menyentakkan saya. Saat pengkhianatan Yudas diumumkan, para Rasul bertanya pada Yesus, “Apakah aku, Tuhan?” Sebelum kita mendengar jawaban Kristus, sang composer – seakan menghapus jarak antara peristiwa yang sesungguhnya terjadi dengan perayaannya saat ini – memasukkan suatu paduan suara yang mulai dengan seperti ini: “Akulah itu; akulah sang pengkhianat! Aku harus membayar atas dosa-dosaku.” Seperti seluruh paduan suara dalam karya musical ini, paduan suara tersebut menyatakan perasaan orang yang mendengarkan. Itu juga merupakan undangan bagi kita untuk mengakukan dosa kita.

Injil mengisahkan akhir hidup Yudas yang menghebohkan: “Pada waktu Yudas, yang menyerahkan Dia, melihat, bahwa Yesus telah dijatuhi hukuman mati, menyesallah ia. Lalu ia mengembalikan uang yang tiga puluh perak itu kepada imam-imam kepala dan tua-tua, dan berkata: "Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah." Tetapi jawab mereka: "Apa urusan kami dengan itu? Itu urusanmu sendiri!" Maka iapun melemparkan uang perak itu ke dalam Bait Suci, lalu pergi dari situ dan menggantung diri.” (Mat 27:3-5). Tapi marilah kita tidak melakukan penghakiman yang terburu-buru di sini. Yesus tidak pernah meninggalkan Yudas, dan tak seorang pun yang tahu, setelah ia menggantung dirinya di pohon dengan tali di lehernya, ke mana ia akan berakhir: dalam tangan Setan atau tangan Allah. Siapa yang dapat mengatakan apa yang terjadi dengan jiwanya pada saat-saat terakhir itu? “Teman” adalah kata terakhir yang digunakan Yesus untuk menyebutnya, dan ia tidak bisa melupakan hal itu, sebagaimana ia juga tidak dapat melupakan tatapan Yesus.

Adalah benar bahwa saat berbicara pada Bapa tentang para murid-Nya, Yesus berkata tentang Yudas, “tidak ada seorangpun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa” (Yoh 17:12). Tapi di sini, dan dalam berbagai kesempatan lain, Ia berbicara dalam perpektif waktu dan bukan dalam perspektif kekekalan. Keparahan dari pengkhianatan ini sendiri sudah cukup besar tanpa perlu mempertimbangkan kesalahan yang kekal, untuk menjelaskan pernyataan lain tentang Yudas: “celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan." (Mrk 14:21). Tujuan kekal dari manusia adalah rahasia Allah yang tak dapat diganggu gugat. Gereja meyakinkan kita bahwa seseorang yang dinyatakan sebagai seorang kudus telah mengalami kebahagiaan kekal, namun Gereja tidak tahu dengan pasti apakah saat ini ada jiwa di neraka.

Dante Aloghieri, yang menempatkan Yudas di bagian terdalam di neraka pada “Divine Comedi”nya, bercerita tentang percakapan terakhir Manfred, anak Frederick II dan Raja Sisilia, yang oleh semua orang saat itu dianggap terkutuk karena ia meninggal dalam keadaan terekskomunikasi. Setelah terluka serius dalam pertempuran, ia menceritakan suatu rahasia pada sang penyair di masa-masa terakhir hidupnya, “…dengan menangis, aku memberikan jiwaku / pada Ia yang berkenan menganugerahkan pengampunan” dan ia mengirimkan pesan dari Purgatory ke dunia yang masih relevan bagi kita:

“Sungguh mengerikan sifat dosaku, tapi kasih tak berbatas merengkuh setiap orang yang mencarinya.”

Dalam hal inilah kisah tentang saudara kita Yudas seharusnya menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu: agar kita menundukkan diri kita pada Ia yang dengan sukarela mengampuni, untuk menghamburkan diri kita pada tangan terentang Sang Tersalib. Hal paling penting dalam kisah tentang Yudas bukanlah tentang pengkhianatannya tapi respon Yesus terhadap pengkhianatan tersebut. Ia tahu betul apa yang ada dalam hati setiap murid-Nya, tapi Ia tidak mengeksposnya; Ia ingin memberi kesempatan pada Yudas bahkan sampai pada menit terakhir untuk berbalik, dan hamper melindunginya. Ia tahu mengapa Yudas dating ke taman zaitun, tapi Ia tidak menolak ciuman dinginnya bahkan menyebutnya “teman” (Mat 26:50). Ia mencari Petrus setelah penyangkalannya untuk memberinya pengampunan, sehingga siapa yang tahu bagaimana Ia mungkin mencari Yudas sepanjang perjalanan-Nya menuju Kalvari! Saat Yesus berdoa di atas salib, “Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Luk 23:34), Ia jelas tidak mengecualikan Yudas dari mereka yang Ia doakan.

Jadi apa yang akan kita lakukan? Siapa yang akan kita ikuti, Yudas atau Petrus? Petrus telah menyesali apa yang ia lakukan, tapi Yudas pada titik tertentu juga menyesal saat ia berseru, “Aku telah mengkhianati darah tak berdosa!” and mengembalikan ketiga puluh keeping perak. Lalu di mana perbedaannya? Hanya satu: Petrus memiliki keyakinan akan kasih Kristus, sedangkan Yudas tidak! Dosa terbesar Yudas bukan pada pengkhianatannya terhadap Kristus tapi pada keraguannya akan kasih-Nya.

Jika kita pernah meniru Yudas dalam pengkhianatannya, beberapa dari kita melakukannya lebih atau kurang dari itu, janganlah kita meniru dia dalam kurangnya rasa percaya akan pengampunan. Ada sakramen yang melaluinya dimungkinkan bagi kita untuk memperoleh suatu pengalaman yang pasti akan kasih Kristus: Sakramen Rekonsiliasi. Sungguh indah sakramen ini! Sungguh indah mengalami Yesus sebagai Guru, sebagai Tuhan, namun lebih manis saat mengalami-Nya sebagai Penebus, sebagai seseorang yang telah menarik Anda dari jurang yang sangat dalam, seperti Ia menarik Petrus keluar dari laut, sebagai seseorang yang menyentuhmu dan berkata, seperti yang ia lakukan pada para penderita kusta, “Aku mau, jadilah engkau tahir” Mat 8:3).

Pengakuan dosa membuat kita mengalami sendiri apa yang dikatakan Gereja tentang dosa Adam dalam “Exultet” di malam Paskah: “O kesalahan yang membahagiakan yang memperoleh Penebus yang sungguh agung dan mulia!” Yesus tahu bagaimana mengambil seluruh dosa kita, saat kita bertobat, dan menjadikan dosa tersebut sebagai “kesalahan yang membahagiakan”, kesalahan yang tidak akan diingat lagi kecuali untuk mengalami kasih dan kelembutan ilahi yang disebabkan olehnya.

Saya memiliki suatu harapan bagi Anda sekalian, para bapa yang mulia, saudara dan saudari: di Minggu Paskah, semoga kita bangkit dan biarlah kata-kata seorang besar yang kembali pada Kristus di masa modern ini, Paul Claudel, bergema dalam hati kita:

“Allahku, aku telah dihidupkan kembali, dan aku ada bersama-Mu kembali!

Aku telah tertidur, tergeletak seperti orang mati di waktu malam. Engkau berkata, “Jadilah terang!” dan aku terbangun bagaikan suatu seruan yang diserukan keluar.

Bapaku, Engkau memberikan hidup padaku sebelum fajar, aku meletakkan diriku di Hadirat-Mu.

Hatiku telah bebas dan mulutku dibersihkan; tubuh dan jiwaku berpuasa. Aku telah diampuni dari segala dosaku, yang aku akukan satu demi satu.

Cincin perkawinan ada di jariku dan wajahku telah dibasuh. Aku seperti seorang yang tanpa dosa yang berada dalam rahmat yang Engkau karuniakan padaku.”

Inilah yang dapat dilakukan Paskah Kristus pada kita.


............



Damascus Road Series: Jiwa Bukanlah Sekedar Gagasan Metafisika

Source: https://static.wixstatic.com

oleh Jeff Miller
dimuat pada Majalah This Rock Volume 15 Nomor 8, Oktober 2004



Ada pepatah bahwa jika engkau ingin membuat Allah tertawa, katakan pada-Nya rencanamu. Demikian juga sebaliknya. Jika Allah ingin membuatmu tertawa, Ia akan mengatakan rencana-Nya padamu. Pada 4 April 1999, pada Malam Paskah, aku diterima ke dalam Gereja Katolik. Sekitar dua tahun sebelumnya, jika ada seorang nabi yang mengatakan padaku bahwa aku akan sangat senang saat memasuki Gereja, atau bahwa air mata akan mengaliri pipiku saat aku melakukan pengakuanku yang pertama, akan kukatakan padanya bahwa ia sangat keliru.

Aku berada dalam puncak konservatismeku pada positivisme Randian. Bagiku, sikap egois yang radikal merupakan nilai tertinggi. Berada pada puncak individualisme dan menjadi manusia yang berdiri atas usaha sendiri adalah idealisme tertinggiku. Nilai-nilai alami membantuku untuk memodifikasi positivisme ideal ini saat berhubungan dengan orang lain, tetapi itu tidak cukup. Aku sering memandang rendah mereka yang percaya pada takhyul, orang yang masih percaya pada kumpulan-kumpulan mitos semacam Allah.

Selama tahun-tahun formatif dalam hidupku, aku tumbuh di Portland, Oregon, dalam atmosfer dimana religi bukanlah bagian dari hidupku. Religi adalah suatu hal yang pribadi yang tidak pernah dibicarakan. Aku tahu bahwa teman-teman sekitar rumahku pergi ke gereja dengan orang tua mereka, dan mereka tidak pernah membicarakan tentang gereja mereka atau pertanyaan-pertanyaan religius apapun. Aku juga tahu bahwa keluarga kami dianggap aneh karena hampir tidak pernah ke gereja. Ayahku mengatakan bahwa ia seorang agnostic atau seorang “pensiunan Kristen”. Ibuku, yang meninggal tahun lalu, memasuki Gereja Katolik saat aku di SMA. Topik tentang religi adalah hal yang sangat pribadi di rumahku sehingga aku bahkan tidak tahu bahwa ibuku telah beralih dari Methodisme ke Gereja Katolik sampai bertahun-tahun kemudian.

C.S. Lewis mengatakan, “Seorang muda yang berharap untuk tetap menjadi atheis tidak boleh terlalu hati-hati akan bacaannya.” Tanpa mengetahui hal itu, aku sangat hati-hati mengenai bacaanku. Seiring pertumbuhanku, aku menikmati membaca, dan sains fiksi adalah genre pilihanku. Aku bangga akan pilihanku pada apa yang disebut “hard SF”, seperti Isaac Asimov dan Hal Clement. Aku sedikit membaca hal-hal diluar SF kecuali majalah-majalah umum mengenai sains. Aku juga menikmati kisah-kisah Sherlock Holmes. Karakter itu menarik perhatianku karena dia terlihat selalu in control dan menggunakan kemampuan akal dan sainsnya untuk memecahkan kejahatan. Aku mencoba untuk bertindak seperti Mr. Holmes dengan menaruh perhatian secara akut terhadap sekelilingku.

Persentuhanku pertama dengan religi adalah saat aku pergi dengan ibuku ke suatu gereja katolik progresif. Aku saat itu masih remaja, dan untuk menyenangkan ibuku aku pergi ke Misa. Musik yang digunakan selama Misa termasuk pilihan-pilihan semacam “Turn!Turn!Turn!”-nya Byrds dan “Day by Day” dari musical Godspell. Aku menikmati bernyanyi dan tidak memikirkan tentang lagu-lagu ini. Ibuku kenal wanita yang memimpin paduan suara, dan aku berakhir dalam audisi dan kemudian bernyanyi bersama mereka. Aku menikmati ironi menjadi atheis dan bernyanyi untuk gereja.

Suatu sore aku pergi ke tempat seorang pastor untuk suatu kelas tentang Gereja. Pastornya memberi sekilas pandang tentang Alkitab dan bahwa mujizat tidak sungguh-sungguh terjadi tetapi dapat dijelaskan dengan cara lain. Aku ingat saat itu berpikir bahwa sebagai seorang atheis aku telah tidak mempercayai mujizat. Mengapa aku harus menjadi Katolik untuk tidak mempercayai mujizat? Aku juga mendengar kata Katolikisme digunakan untuk pertama kalinya. Kata ini entah kenapa terdengar tidak menyenangkan dan terus menempel padaku. Selama periode panjang bertahun-tahun ini aku tidak pernah menerima informasi apapun tentang apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik. Homili-homilinya penuh dengan ajaran-ajaran sosial dan tidak lebih dari itu. Aku menerima komuni tanpa tahu apa yang kuterima. Aku pasti tertawa jika sebelumnya aku diberitahu apa yang dikatakan Katolik tentang Ekaristi, meskipun sebenarnya akan baik jika diberitahu hal yang sebenarnya. Orang tuaku akhirnya bercerai dan aku berhenti pergi ke Misa. Aku tidak berpikir bahwa perceraian orang tuaku akan mempengaruhiku. Ibuku meminta cerai dan aku mengatakan pada ayahku untuk mengabulkannya, bahwa itu bukan masalah bagiku. Selama periode ini aku tidak pernah menghubungkan kemunduran moral dan penurunan peringkatku dengan apa yang terjadi di rumah. Perceraian orang tuaku tidaklah pahit ataupun menyakitkan, tetapi hanyalah berpisah dan perubahan-perubahan yang terjadi berikutnya mempengaruhiku tanpa aku menyadarinya.

Selama tahun-tahun terakhirku di SMA aku mendaftar pada suatu kelas elektronik. Aku menikmati belajar teori elektronik dan merakit komponen-komponen dan mulai berpikir tentang suatu karir dengan melakukan hal ini. Aku akhirnya bergabung dengan Angkatan Laut dibawah program Advanced Electronics Field. Ketika aku ditanya agama apa yang kuinginkan tertulis di catatanku, aku dengan bangga berkata atheis.

Saat aku pergi ke suatu sekolah elektronik Angkatan Laut, salah seorang instruktur mengundangku ke rumahnya untuk makan malam. Yang terjadi berikutnya adalah bahwa ia adalah seorang Baptist yang mencoba membawa orang ke dalam kepercayaannya. Kami berbicara di ruang tamunya dan dia mengatakan beberapa hal yang menarik bagiku karena aku pada saat itu adalah tipikal seorang pelaut yang berada dalam party mode. Aku berusaha masuk dalam pembicaraan tetapi satu-satunya gagasan filosofis yang dapat aku pikirkan saat itu adalah suatu lirik dari “Stairway to Heaven” milik Led Zeppelin : “Yes, there are two paths you can go by, but in the long run there's still time to change the road you're on” (Ya, ada dua jalan yang dapat kau lalui, tetapi dalam perjalan panjang tetap masih ada waktu untuk berubah jalur).

Ini adalah suatu indikasi yang jelas mengenai kekurangan total pada kedalaman spiritualku saat itu, dan aku tersenyum jika mengingatnya. Malam itu berakhir dengan baptis selam dan beberapa literatur. Aku tidak pernah melihatnya lagi atau orang-orang lainnya setelah aku selesai dengan kelas tersebut, dan tidak ada follow up. Konversiku berakhir dalam dua puluh empat jam. Itu jelas suatu kasus tentang benih yang disebarkan pada tanah yang keras bercadas.

Saat ditugaskan di luar negeri, aku menikah di Filipina. Istriku adalah seorang Katolik, dan kami menikah di sebuah gereja Katolik. Gereja ini entah kenapa semacam pabrik pernikahan, dan tidak ada persiapan pernikahan yang diberikan. Selama lima belas tahun berikutnya satu-satunya saat dimana aku memasuki sebuah gereja adalah saat pembaptisan kedua anakku. Aku merasa tidak nyaman saat persiapan pembaptisan dan merasakan suatu kebohongan total saat melakukan semua itu dan pada saat yang sama menjadi seorang atheis. Selama bertahun-tahun aku tidak pernah diajarkan gagasan tentang Allah atau religi selain untuk menghinanya. Istriku terus dalam devosi pribadinya dengan beberapa buku doa yang dibawanya dan dengan doa rosario. Aku berusaha menjauhkan istriku dari apa yang aku anggap takhyul, tetapi ia dengan bijak mengabaikanku untuk hal tersebut.

Pada saat aku bergabung dengan Angkatan Laut, pandanganku hampir mirip dengan apa yang sekarang disebut liberalisme modern : Pemerintah harus melakukan apa yang dapat dilakukan untuk membantu masyarakat dan membuat hidup mereka lebih baik. Tetapi saat aku bepergian keliling dunia dan memiliki keluarga, pandanganku tentang apa yang penting dalam kehidupan berubah. Pada awal tahun sembilan puluhan aku mulai mendengarkan bincang-bincang di radio dan itu adalah G. Gordon Liddy show saat aku mendengar dia menyatakan lima bukti akan Allah sebagaimana didetailkan oleh Thomas Aquinas dalam Summa Theologiae. Aku cukup terkejut atas gagasan yang begitu rasional. Aku mulai mengamati bahwa orang-orang yang aku hormati percaya kepada Allah, dan mereka yang menyebut diri non-religius aku tidak sependapat dengan mereka dalam banyak hal.

Mungkin secara tidak sadar aku melihat atheismeku mulai kehilangan dasar karena aku secara aktif mulai menguatkan “iman” atheisku. Aku mulai membaca buku-buku tentang atheisme. Satu buku yang aku baca merekomendasikan karya Ayn Rand. Aku sungguh bersukacita membaca Atlas Shrugged, dan aku berpikir itu mengandung jawaban-jawaban yang aku butuhkan untuk dapat tetap konservatif sekaligus atheis.

Pada saat kegairahan baruku sedang meningkat, sesuatu yang akan mengubah kehidupanku terjadi. Aku terbiasa mengendarai motorku ke dan dari tempat kerja. Suatu pagi, saat aku hampir sampai pada akhir suatu blok, aku melihat sebuah mobil datang tepat ke arahku dari sebelah kanan. Orang yang ada di mobil melihat ke arah jalan utama dan tidak melihatku. Aku memperhitungkan bahwa tidak mungkin aku dapat menghindari tabrakan. Dalam detik-detik itu seluruh hidupku tidak berkelebat di mataku, tetapi hanya keyakinan bahwa aku akan mati. Mobil itu menabrakku dengan keras, dan aku terpelanting ke atapnya kemudian jatuh ke jalan. Reaksi pertamaku adalah terkejut – terkejut bahwa aku masih hidup. Banyak orang yang berhenti, dan berkerumun membantuku serta memeriksa kondisiku. Pengemudi mobil memacu mobilnya tanpa dikenali oleh mereka yang menolongku.

Aku selamat dengan cedera yang relatif ringan dan beberapa goresan. Ini sekaligus merupakan akhir dari atheismeku. Menghadapi kematian, aku menemukan bahwa aku tidak sungguh percaya bahwa jika aku mati saat itu maka keberadaanku akan lenyap dari semesta. Jiwa bukanlah sekedar gagasan metafisika.

Aku berharap konversiku semendadak Saul yang dibutakan oleh cahaya, tetapi pikiran baruku hanya tersaring secara perlahan dibenakku dan membawaku pada suatu theisme umum. Aku percaya bahwa Allah ada, dan aku tidak mempunyai gagasan apa yang harus aku lakukan mengenai informasi tersebut. Aku tahu bahwa aku sebaiknya pergi ke suatu gereja. Akan sangat sulit untuk menemukan seseorang yang se-ignorant aku mengenai Kristianitas. Aku tahu ada beberapa gereja yang berbeda dan aku tak memiliki ide apa yang menjadi perbedaan antara gereja Protestan, Katolik atau Mormon.

Kecintaanku terhadap bernyanyi juga menghubungkanku dengan lagu-lagu Natal. Pada suatu saat selama masa Natal kamu dapat menyalakan hampir radio manapun dan mendengarkan lagu-lagu ini. Ketika semakin sulit untuk menemukan lagu-lagu ini diudarakan, aku akhirnya mendengarkan stasiun radio Protestan lokal untuk mendengarkan lagu-lagu tersebut. Aku juga mulai mendengarkan pesan-pesan yang mereka sampaikan di antara lagu-lagu. Keatheisan dan stoikismeku sebelumnya tidak mempersiapkanku untuk menghadapi segala kesalahan yang telah kubuat dalam hidupku, dan sekarang aku siap untuk mengakui bahwa aku adalah seorang pendosa dan bahwa aku sedang membutuhkan seorang penebus.

Ketika Natal berakhir, aku melanjutkan mendengarkan siaran mereka dan mempelajari siapa Yesus. Aku membaca sejumlah besar buku dari beberapa tokoh Protestant terkemuka dan sedikit buku dari Katolik. Aku juga mulai membaca Alkitab, dan aku membuat kesalahan seperti yang dilakukan oleh sebagian besar pemula dengan membaca mulai dari Kejadian sampai Wahyu. Aku masih mempunyai pemikiran pagan tentang religi. Saat membaca Alkitab, aku berpikir bahwa sesuatu yang supernatural akan terjadi untuk membuktikan bahwa Alkitab benar dan bahwa Allah sungguh ada. Karena aku membaca Alkitab menggunakan kerangka referensiku sendiri, aku juga memasukkan beberapa heresi ke dalam pemahamanku. Satu hal yang kuperhatikan saat mendengarkan radio Protestant adalah bahwa seseorang yang berbicara selama satu jam sering akan melakukan kontradiksi dengan apa yang telah diucapkannya sebelumnya. Dengan segala apa yang telah aku alami dalam Gereja Katolik, aku mulai melakukan bacaan yang mendalam tentang Katolikisme.

Aku kemudian pensiun dari Angkatan Laut, dan keluargaku pindah ke Florida. Aku menemukan toko buku Katolik dan membeli sebuah Katekismus dan beberapa buku lainnya. Membaca Katekismus membuatku bergairah dengan apa yang kutemukan. Aku melihat bahwa apa yang diajarkan Gereja adalah konsisten dengan apa yang aku amati dalam hidup, dan itu dipresentasikan sebagai kesatuan yang masuk akal. Aku memiliki sisa sikap sola scriptura yang telah kuserap dari masyarakat. Aku memahami melalui media bahwa apapun pemikiran Kristen yang serius maka itu harus ada dalam Alkitab. Aku memperhatikan bahwa bagian yang kubaca dalam Katekismus tidak kulihat secara langsung dalam Alkitab.

Untungnya, kami pindah ke wilayah yang memiliki stasiun radio Katolik dan juga EWTN di televisi kabel. Pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan dan jawaban-jawaban yang diberikan dalam Catholic Answers Live adalah bagian yang penting dalam konversi intelektualku. Pernah di militer, adalah mudah bagiku untuk memahami bahwa Gereja memerlukan suatu hierarki dan suatu magisterium untuk menyatakan kebenaran. Militer telah menulis instruksi-instruksi tentang hampir segala hal, meskipun demikian kami tetap harus menjelaskan kepada yang lainnya apa maksud dari instruksi-instruksi tersebut. Kadang kami harus bertanya kepada komando yang lebih tinggi untuk meyakinkan bahwa penafsiran kami benar.

Aku melihat bahwa harus ada suatu Gereja yang hidup untuk melindungi doktrin-doktrin dan menerjemahkan serta mengajarkannya tanpa kesalahan. Sejalan dengan waktu maka harus ada suatu cara untuk menanyakan pertanyaan baru yang berkembang : dengan hanya menggunakan Bible study, maka akan sulit untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai topik-topik seperti bayi tabung dan kloning.


Para Founding Father Amerika Serikat memahami permasalahan ini saat mereka menyusun Konstitusi. Mereka tahu bahwa Konstitusi tidak dapat menafsirkan dirinya sendiri, dan mereka membentuk Supreme Court untuk melakukan penafsiran tersebut. Tentu saja, sistem ini gagal jika Supreme Court membuat interpretasi yang tidak konsisten dengan tujuan para pendiri. Karena dosa asal, tidak ada organisasi manusia yang dapat menjaga agar tidak jatuh dalam kekeliruan. Hanya melalui Roh Kudus yang membimbing Gereja maka kita yakin bahwa Gereja tidak mengajarkan kekeliruan.


Sebagaimana yang dikatakan Augustine, “Aku tidak akan mempercayai Injil jika bukan karena Gereja.” Ini sungguh merupakan Rosetta stone yang menolongku untuk mempercayai otoritas Gereja dan menerima segala ajarannya. Daripada melihat isu seperti kontrasepsi dan mempertanyakan apakah ajaran Gereja adalah benar, aku mengambil sikap bahwa aku mempercayai doktrin Gereja sebagai benar dan aku perlu mempelajari mengapa itu benar. Aku telah sampai pada penghargaan kepada harta yang sangat banyak dan agung yang telah diajarkan Gereja selama berabad-abad. Tonggak-tonggak intelektual dari iman kita adalah sesuatu yang kita tidak akan pernah kekurangan, dan setiap saat kita dapat datang kepada suatu pemahaman yang lebih dalam tentang ajaran-ajaran tersebut.


Dengan pemahaman ini, aku siap memasuki Gereja. Karena perayaan Paskah sudah dekat, aku harus menunggu dan menghadiri sesi RCIA berikutnya. Istriku dan aku juga mulai menghadiri Misa harian. Kerinduanku terhadap Ekaristi meningkat, dan sungguh sulit untuk tinggal di belakang saat yang lainnya menerima Komuni. Akhirnya hari itu tiba : Aku diterima ke dalam Gereja dan dikuatkan.


Setelah menerima Komuni aku menyadari bahwa, baik secara figuratif maupun literal, aku telah melewatkan empat puluh tahun di belantara dan sekarang telah memasuki Tanah Terjanji. Aku juga tahu bahwa seperti bangsa Israel masih tetap menghadapi banyak pertempuran setelah memasuki Tanah Terjanji, aku juga masih akan menghadapi pertempuran spiritual untuk tahun-tahun ke depan.


Menulis suatu kisah konversi adalah sulit, karena kisah itu mempunyai bagian awal dan tengah, tetapi tidak sungguh-sungguh memiliki bagian akhir. Kisah-kisah konversi kita tidak berakhir dengan sungguh-sungguh sampai kematian kita, saat kita berharap mendengar, “Pelayan yang baik dan setia, masuklah kedalam sukacita tuanmu.” Untuk pergi dari padang gurun atheisme kepada pengenalan dan kecintaan akan Allah melalui Gereja-Nya adalah suatu sukacita yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.



------------




Jeffrey Miller diterima ke dalam Gereja pada 1999. Seorang pensiunan pimpinan Angkatan Laut, ia sekarang adalah seorang simulation engineer dan mengembangkan peralatan pelatihan untuk militer. Ia dan istrinya, Socorro, memiliki dua anak yang sudah dewasa. Miller menulis dari Jacksonville, Florida.






Copyright © 1979 – 2008 Catholic Answers.

Terjemahan ini telah mendapat ijin dr Cherie Peacock, editor majalah This Rock
http://www.facebook.com/home.php?sk=group_166780996252