Pengantar
Liturgi
St. Yohanes Krisostomus adalah liturgi dalam ritus Byzantine yang banyak
digunakan oleh Gereja-gereja dengan ritus non Latin saat ini (1). Liturgi ini
merupakan pengembangan dari Liturgi St. Basil, yang juga merupakan pengembangan
dari Liturgi St. Yakobus Rasul. Penyebab modifikasi liturgi oleh kedua Santo
tersebut adalah karena dalam kapasitasnya sebagai gembala umat, St. Basil yang
adalah Metropolitan Kaesarea di Kapadokia dan St. Yohanes Krisostomus adalah
Patriark Konstantinopel, melihat sikap dan tanggapan umat serta para klerus
terhadap lamanya durasi Liturgi St. Yakobus. Proklus of Constantinople mencatat
terjadinya perubahan-perubahan liturgi tersebut:
§
"Saat Basil yang Agung . . .
melihat kecerobohan dan menurunnya kinerja mereka dalam menanggapi lamanya
durasi liturgi - dengan tidak berpikir bahwa liturgi itu terlalu lama - ia
meringkas liturgi tersebut, sehingga mengurangi kelelahan para klerus dan
asistennya." (2).
§
"Tak lama setelah itu, Bapa kita
Yohanes Krisostomus, yang begitu memperhatikan keselamatan umatnya sebagaimana
seharusnya seorang gembala, mempertimbangkan kecerobohan yang ada dalam sikap
alami manusia, secara menyeluruh mencabut segala keberatan yang bersifat
setani. Maka ia membiarkan sebagian besar bagian tetap dan menjadikan ringkas
semua bagian [yang terlalu panjang] yang dapat membuat orang menjauh dari
Institusi Ilahi dan Apostolik ini." (2).
Pengubahan liturgi itu bukannya tanpa
kecaman. St. Basil menerima kecaman dari para klerus Neo-Caesarea di Pontus,
Asia Minor yang mengkritik penggunaan kewenangannya untuk mengubah liturgi (3).
Namun tidak tercatat adanya penentangan terhadap liturgi St. Yohanes
Krisostomus walaupun di dalamnya terdapat penambahan dan pengurangan dari
Liturgi St. Basil.
Perbedaan antara Ketiga Liturgi
Liturgi St. Yakobus yang dijadikan dasar
pengubahan liturgi oleh St. Basil diyakini disusun langsung oleh St. Yakobus
Rasul Saudara Tuhan (3). Walaupun liturgi ini juga digunakan di Syria, namun
liturgi yang dikembangkan oleh St. Basil adalah bentuk Yunani dari Liturgi St.
Yakobus. Liturgi St. Yakobus tersebut terdiri dari bagian-bagian sebagai
berikut (3):
- §
Doa persiapan oleh Imam dan Diakon;
- §
Pembukaan kecil: Diakon mendoakan litani
yang disambut dengan :Kyrie eleison" oleh umat, Imam berdoa pribadi;
- §
Trisaigon (semacam "Tuhan
Kasihanilah");
- §
Bacaan-bacaan dari Perjanjian Lama dan
Baru;
- §
Doa oleh para katekumen, termasuk di
dalamnya penghormatan terhadap salib yang diyakini bahwa praktek ini dilakukan
setelah penemuan relikwi Salib Suci oleh St. Helena, diikuti oleh selesainya
ibadat untuk para katekumen;
- §
Setelah para katekumen bubar, Diakon
meminta umat yang tinggal untuk saling menyapa agar saling mengenal sekaligus
untuk meyakinkan bahwa semua katekumen telah meninggalkan ruangan;
- §
Upacara pembukaan meriah: pemberkatan
dupa, pengumandangan Cherubikon (pujian tentang para malaikat yang hadir dalam
liturgi), sementara Imam melakukan doa pribadi lagi. Persembahan dibawa ke
Altar.
- §
Kredo. Diyakini bahwa yang
dikumandangkan adalah Syahadat Para Rasul (Kredo Singkat);
- §
Doa Persembahan dan litani;
- §
Anaphora (semacam Doa Syukur Agung),
pengucapan kalimat Institusi, Anamnesis (kisah sengsara singkat), Epiklesis
(doa kepada Roh Kudus agar mengubah roti dan anggur menjadi TUbuh dan Darah
Kristus). Tidak terdapat catatan tentang penggunaan iconostasis (tirai pemisah
antara Imam dengan umat) pada Liturgi St. Yakobus awal;
- §
Doa Suplikasi (doa umat meriah dengan
litani, termasuk di dalamnya doa kepada Bunda Kudus yang ditujukan untuk
menyikapi bidat Nestorian);
- §
Doa Bapa Kami dengan pembukaan dan
embolisme (semacam penutup);
- §
Pengangkatan Hosti, pemecahan Hosti,
Mazmur singkat;
Dengan alasan yang telah disebutkan
sebelumnya, St. Basil membuat beberapa perubahan pada Liturgi St. Yakobus di
atas. Tidak terlalu jelas perubahan apa saja yang dilakukan oleh St. Basil (4)
namun St. Basil jelas melakukan perubahan, seperti yang dinyatakan oleh
beberapa teks termasuk teks oleh Proclus of Constantinopel di atas. Satu
perubahan yang pasti adalah ditambahkannya doa yang diucapkan Imam di Altar
untuk memohon perlindungan Allah (4).
Mengenai perubahan yang dilakukan St.
Yohanes Krisostomos, terdapat cukup catatan tentangnya. Perubahan tersebut
meliputi antara lain (3):
- §
Dihilangkannya persiapan persembahan,
pembukaan kecil dan meriah, serta Kredo;
- §
Liturgi diawali dengan sapaan Imam,
"Damai bagi semua," yang ditanggapi oleh umat dengan "dan juga
bagi rohmu";
- §
Bacaan dari kitab para nabi dan para
rasul, diikuti pembacaan Injil oleh Diakon, dilanjutkan dengan homili oleh
Imam;
- §
Doa bagi ketekumen diikuti doa
penitensi;
- §
Doa bagi para terbaptis, diikuti
pembubaran para katekumen;
- §
Persembahan (di bagian ini terdapat
perubahan yang ditambahkan oleh St. Yohanes Krisostomos): koor mengiringi Imam
saat membawa persembahan menuju Altar;
- §
Doa Persembahan. Disini St. Yohanes
krisostomus mengkomposisi Doa Persembahan tersendiri yang merupakan ringkasan
dari Doa Persembahan dalam Liturgi St. Basil;
- §
Litani kepada para kudus;
- §
Doa bagi mereka yang telah meninggal
diikuti doa bagi umat;
- §
Doa Bapa Kami, diawali dengan litani
singkat dan diakhiri dengan doxology;
- §
Pengangkatan Hosti, diikuti Pemecahan
Hosti dilanjutkan Komuni dua rupa dengan Darah Tuhan diminum dari piala;
Saat ini, Liturgi St. Yohanes
Krisostomus telah mengalami beberapa tambahan lagi selain dari yang disebutkan
di atas. Liturgi St. Basil pun, yang masih digunakan saat ini, juga mengalami
perubahan. Pemisahan antara liturgi bagi katekumen dan yang terbaptis diyakini
tidak dilakukan oleh St. Basil, namun merupakan penambahan setelah St. Basil
wafat.
Penutup
Liturgi yang digunakan dalam Gareja
adalah liturgi yang hidup, yang terus mengalami modifikasi dan penyesuaian (3).
Modifikasi dan penyesuaian ini dilakukan oleh gembala yang berwenang setelah
melihat adanya bahaya bahwa umat akan meninggalkan liturgi karena keterbatasan
alami manusia (misal: kepenatan dll). Dengan melakukan perubahan liturgi
tersebut, dapat dilihat bahwa Gereja, dalam hal ini pihak yang berwenang,
melakukan tugasnya sebagai gembala umat yang mengenal betul umat gembalaannya
dan mengusahakan berbagai cara agar kawanan gembalaannya tersebut tidak
tercerai-berai karena tidak kuat dengan tuntutan gembalanya yang mungkin
melebihi keterbatasan sifat-sifat alami kawanannya.
............