Showing posts with label Scripsi. Show all posts
Showing posts with label Scripsi. Show all posts

Saturday, 26 October 2019

Tentang Uniatisme



JOINT INTERNATIONAL COMMISSION FOR THE THEOLOGICAL DIALOGUE BETWEEN THE ROMAN CATHOLIC CHURCH AND THE ORTHODOX CHURCH
http://www.vatican.va/roman_curia/pontifical_councils/chrstuni/ch_orthodox_docs/rc_pc_chrstuni_doc_19930624_lebanon_en.html


Ada beberapa poin menarik dari dokumen Joint Commission antara Gereja Katolik dan Gereja Orthodox di link di atas.

Uniatisme menurut link yg di vatican.va adalah upaya untuk melakukan proselytisme atau mengkonvert umat dari Gereja Katolik ke Orthodox ataupun sebaliknya.

Communiqué: 'It is not a question of seeking the conversion of persons from one Church to the other. This latter type of missionary activity, which has been called "uniatism"...'

Apakah Katolik Timur hasil uniatisme? Menurut dokumen tsb, Katolik Timur muncul atas prakarsa dari dalam diri Gereja2 yang dulu berada di bawah Gereja Orthodox walaupun memang mendapat dukungan dari 'pihak luar'.

8. 'In the course of the last four centuries, in various parts of the East, initiatives were taken WITHIN certain Churches and impelled by outside elements, to restore communion between the Church of the East and the Church of the West.'). Keadaan ini membuat jarak antara Gereja Katolik dan Orthodox justru semakin renggang (9. '...the division remains, embittered by these attempts.'.

Dokumen tsb muncul untuk membahas kegusaran Gereja Orthodox thdp Katolik Timur yang melakukan karya pastoral di Eropa.

Communiqué: 'The theme of the seventh plenary session was entirely centred on the theological and practical questions presented by the existence and pastoral activity of the Oriental Catholic Churches. ... which have taken place in Central and Eastern Europe').

Gereja Orthodox menganggapnya sebagai upaya proselytisme atau uniatisme. Namun dalam dokumen tsb disepakati bahwa karya pastoral Katolik Timur tetap diperlukan untuk menjawab kebutuhan spiritual umatnya

3. ' Concerning the Oriental Catholic Churches, it is clear that they, as part of the Catholic Communion, have the right to exist and to act in answer to the spiritual needs of their faithful'.

Tidak dipungkiri bahwa dari kedua belah pihak memang telah terjadi upaya uniatisme yaitu keinginan untuk mengkonversi umat dari Gereja satu ke Gereja lain. Dokumen tsb juga mengakui upaya pemerintah sipil yang mendukung Gereja Orthodox untuk melakukan uniatisme terhadap Katolik Timur.

11. 'On the other hand certain civil authorities made attempts to bring back Oriental Catholics to the Church of their Fathers'.

Melalui dokumen tersebut dinyatakan bahwa uniatisme bukanlag cara yang baik untuk menyatukan kedua Gereja. Uniatisme dipandang sebagai metode masa lalu yang tidak cocok diterapkan pada masa sekarang yang memerlukan metode baru. Judul dokumen tersebut menyatakan hal tersebut: 'UNIATISM, METHOD OF UNION OF THE PAST, AND THE PRESENT SEARCH FOR FULL COMMUNION'.

Jadi, apakah Katolik Timur hasil dari uniatisme? Menurut dokumen tersebut tidak karena keinginan bersatu dengan Roma muncul dari dalam diri Gereja-gereja tersebut. Bahwa Gereja-gereja tersebut berusaha mengkonversi Gereja lokal lain mungkin iya, tapi itu juga dilakukan oleh Gereja Orthodox bahkan dengan dukungan pemerintah sipil (Russia mungkin ya?).

Dan omong2 tentang uniatisme/proselitisme, apa yang dilakukan Gereja Orthodox Indonesia di Indonesia adalah bentuk uniatisme karena berusaha mengkonversi umat Gereja Katolik ke Gereja mereka.

Refleksi Pribadi mengenai Peran Gereja dalam Tata Keselamatan

Image result for sacrament icon

Keselamatan kekal adalah rahmat dari Allah. Tidak ada usaha manusia yang tanpa rahmat Allah dapat mencapai keselamatan kekal. Predestinasi baik dari paham Thomist maupun Molinist mengajarkan bahwa sejak semula Allah telah menetapkan beberapa untuk selamat. Ini berarti bahwa siapa yang selamat adalah wewenang penuh Allah.

Lalu, untuk apa Kristus mendirikan Gereja, jika ternyata menjadi anggota Gereja pun belum tentu selamat, jika tidak dipredestinasi selamat oleh Allah? Bukankah bisa saja seseorang saat ini menentang Gereja habis-habisan, tetapi saat meninggalnya tiba-tiba Allah memberinya rahmat pertobatan sehingga ia minta dibaptis? Tentang pertobatan yang drastis mendadak tersebut mungkin bisa diperdebatkan, tetapi dari pertobatan mendadak tadi tampak peran Gereja dalam tata keselamatan.

Kristus telah memberikan wewenang kepada Gereja untuk menyelenggarakan sakramen-sakramen. Tanpa Gereja, tidak akan ada Sakramen Baptis (walaupun dalam keadaan mendesak semua orang bisa membaptis), dan yang terutama, tidak akan ada Sakramen Pengampunan Dosa. Tanpa sakramen-sakramen itu, kita akan tetap dalam keadaan berdosa hingga kematian kita. Melalui sakramen-sakramen yang diselenggarakan Gereja, maka kita bisa berada dalam kedaan terampuni dosa-dosa kita saat kematian, sehingga kita bisa berharap bahwa kita akan terus memandang wajah Allah dalam kehidupan kekal.

Sunday, 7 October 2018

Mengenal Ritus-ritus dalam Gereja Katolik: Anglican Use Liturgy pada Ritus Roma

Source: http://4.bp.blogspot.com



Sehubungan dengan banyaknya Paroki-paroki Anglikan (Pastor dan seluruh umatnya) yang beralih ke Gereja Katolik, maka sejak tahun 1980-an, Tahta Suci telah mengijinkan penggunaan liturgi Anglikan digunakan dalam Misa, dengan beberapa penyempurnaan sesuai ajaran Gereja.

Berikut adalah penggunaan liturgi Anglikan di Gereja Our Lady of the Atonement, San Antonio Texas.



Mengenal Ritus-ritus dalam Gereja Katolik: Ritus Antiokia pada Gereja Kaldea


Source: https://www.youtube.com

Gereja Antiokia adalah salah satu dari 5 Kepatirarkhatan Lama (Roma, Konstantinopel, Alexandria, Antiokia dan Yerusalem). Gereja ini mewarisi Tahta Apostolik dari St. Petrus, yang setelah dari Antiokia menetap di Roma hingga akhir hayatnya. Ritus yang digunakan dalam Gereja Antiokia bersumber dari ritus lama yang digunakan di Yerusalem yang disebut ritus St. Yakobus.

Gereja Kaldea adalah Gereja Babilonia yang sempat berpisah dengan Gereja Katolik pada masa bidat Nestorian. Gereja ini berada di bawah Patriarkh Babilonia untuk Kaldea. Bahasa liturgis yang digunakan adalah bahasa Syria dan Arab. Jemaat Gereja ini banyak tersebar di Iral, Iran, Syria, Lebanon, Mesir, Turki dan USA.Berikut adalah Liturgi Ilahi di Gereja Kaldea di Toronto, Kanada.

Saksikan videonya berikut:




Mengenal Perkembangan Liturgi: Jejak Liturgi "Versus Populum" dalam Liturgi Alexandria

Source: https://plus.google.com


Setelah ditampilkan satu liturgi kuno yang menggunakan "versus populum" sebagai arah hadap Imam dalam Liturgi Antiokia ( https://www.facebook.com/photo.php?fbid=778259965518068&set=a.223989130945157.68889.100000022168880&type=1&theater ), kali ini ditampilkan jejak liturgi "versus populum" dalam Liturgi Alexandria. Jika dalam Liturgi Antiokia jejak liturgi tersebut didapati dalam Liturgi St. Yakobus, maka dalam Liturgi Alexandria didapati liturgi dengan arah hadap Imam "versus populum" dalam Liturgi St. Serapion.


Liturgi St. Serapion adalah Liturgi St. Markus dengan sakramentari (teks doa bagi Imam) yang disusun oleh St. Serapion (.... - 360-an), Uskup Thmuis, Mesir (1) (2). Liturgi ini sering digunakan oleh St. Athanasius (296-373), Uskup Alexandria, Mesir (1). 

Berikut ini adalah salah satu foto perayaan Liturgi St. Serapion. Dalam foto tersebut tampak bahwa liturgi dirayakan dengan Imam menghadap ke umat (versus populum). Dengan demikian, selain dalam Liturgi Antiokia (dalam Liturgi St. Yakobus), terdapat juga jejak perayaan liturgi dengan Imam menghadap umat pada Liturgi Alexandria (dalam Liturgi St. Serapion). 

Source: https://plus.google.com
Catatan: 

(1). "The Alexandrine Liturgy", http://www.newadvent.org/cathen/01303b.htm
(2). Archimandrite Panteleimon E. Rodopoulos, "The Sacramentary of Serapion",      


Untuk teks anaphora dari sakramentari St. Serapion bisa dilihat di http://sanctaliturgia.blogspot.nl/2005/10/anaphora-of-bishop-serapion-of-thmuis.html


Tuesday, 11 September 2018

Mengenal Perkembangan Liturgi: Pengembangan Liturgi St. Yakobus oleh St. Basil dan St. Yohanes Krisostomus dalam Ritus Byzantine



Source: https://ko.wikipedia.org/


Pengantar

Liturgi St. Yohanes Krisostomus adalah liturgi dalam ritus Byzantine yang banyak digunakan oleh Gereja-gereja dengan ritus non Latin saat ini (1). Liturgi ini merupakan pengembangan dari Liturgi St. Basil, yang juga merupakan pengembangan dari Liturgi St. Yakobus Rasul. Penyebab modifikasi liturgi oleh kedua Santo tersebut adalah karena dalam kapasitasnya sebagai gembala umat, St. Basil yang adalah Metropolitan Kaesarea di Kapadokia dan St. Yohanes Krisostomus adalah Patriark Konstantinopel, melihat sikap dan tanggapan umat serta para klerus terhadap lamanya durasi Liturgi St. Yakobus. Proklus of Constantinople mencatat terjadinya perubahan-perubahan liturgi tersebut:
§  "Saat Basil yang Agung . . . melihat kecerobohan dan menurunnya kinerja mereka dalam menanggapi lamanya durasi liturgi - dengan tidak berpikir bahwa liturgi itu terlalu lama - ia meringkas liturgi tersebut, sehingga mengurangi kelelahan para klerus dan asistennya." (2). 
§  "Tak lama setelah itu, Bapa kita Yohanes Krisostomus, yang begitu memperhatikan keselamatan umatnya sebagaimana seharusnya seorang gembala, mempertimbangkan kecerobohan yang ada dalam sikap alami manusia, secara menyeluruh mencabut segala keberatan yang bersifat setani. Maka ia membiarkan sebagian besar bagian tetap dan menjadikan ringkas semua bagian [yang terlalu panjang] yang dapat membuat orang menjauh dari Institusi Ilahi dan Apostolik ini." (2).
Pengubahan liturgi itu bukannya tanpa kecaman. St. Basil menerima kecaman dari para klerus Neo-Caesarea di Pontus, Asia Minor yang mengkritik penggunaan kewenangannya untuk mengubah liturgi (3). Namun tidak tercatat adanya penentangan terhadap liturgi St. Yohanes Krisostomus walaupun di dalamnya terdapat penambahan dan pengurangan dari Liturgi St. Basil.

Perbedaan antara Ketiga Liturgi

Liturgi St. Yakobus yang dijadikan dasar pengubahan liturgi oleh St. Basil diyakini disusun langsung oleh St. Yakobus Rasul Saudara Tuhan (3). Walaupun liturgi ini juga digunakan di Syria, namun liturgi yang dikembangkan oleh St. Basil adalah bentuk Yunani dari Liturgi St. Yakobus. Liturgi St. Yakobus tersebut terdiri dari bagian-bagian sebagai berikut (3):

  1. §  Doa persiapan oleh Imam dan Diakon;

  1. §  Pembukaan kecil: Diakon mendoakan litani yang disambut dengan :Kyrie eleison" oleh umat, Imam berdoa pribadi;

  1. §  Trisaigon (semacam "Tuhan Kasihanilah"); 

  1. §  Bacaan-bacaan dari Perjanjian Lama dan Baru;

  1. §  Doa oleh para katekumen, termasuk di dalamnya penghormatan terhadap salib yang diyakini bahwa praktek ini dilakukan setelah penemuan relikwi Salib Suci oleh St. Helena, diikuti oleh selesainya ibadat untuk para katekumen;

  1. §  Setelah para katekumen bubar, Diakon meminta umat yang tinggal untuk saling menyapa agar saling mengenal sekaligus untuk meyakinkan bahwa semua katekumen telah meninggalkan ruangan;

  1. §  Upacara pembukaan meriah: pemberkatan dupa, pengumandangan Cherubikon (pujian tentang para malaikat yang hadir dalam liturgi), sementara Imam melakukan doa pribadi lagi. Persembahan dibawa ke Altar.

  1. §  Kredo. Diyakini bahwa yang dikumandangkan adalah Syahadat Para Rasul (Kredo Singkat);

  1. §  Doa Persembahan dan litani;

  1. §  Anaphora (semacam Doa Syukur Agung), pengucapan kalimat Institusi, Anamnesis (kisah sengsara singkat), Epiklesis (doa kepada Roh Kudus agar mengubah roti dan anggur menjadi TUbuh dan Darah Kristus). Tidak terdapat catatan tentang penggunaan iconostasis (tirai pemisah antara Imam dengan umat) pada Liturgi St. Yakobus awal;

  1. §  Doa Suplikasi (doa umat meriah dengan litani, termasuk di dalamnya doa kepada Bunda Kudus yang ditujukan untuk menyikapi bidat Nestorian);

  1. §  Doa Bapa Kami dengan pembukaan dan embolisme (semacam penutup);

  1. §  Pengangkatan Hosti, pemecahan Hosti, Mazmur singkat;

  1. §  Komuni;

  1. §  Doa setelah Komuni

Dengan alasan yang telah disebutkan sebelumnya, St. Basil membuat beberapa perubahan pada Liturgi St. Yakobus di atas. Tidak terlalu jelas perubahan apa saja yang dilakukan oleh St. Basil (4) namun St. Basil jelas melakukan perubahan, seperti yang dinyatakan oleh beberapa teks termasuk teks oleh Proclus of Constantinopel di atas. Satu perubahan yang pasti adalah ditambahkannya doa yang diucapkan Imam di Altar untuk memohon perlindungan Allah (4).

Mengenai perubahan yang dilakukan St. Yohanes Krisostomos, terdapat cukup catatan tentangnya. Perubahan tersebut meliputi antara lain (3):

  1. §  Dihilangkannya persiapan persembahan, pembukaan kecil dan meriah, serta Kredo;

  1. §  Liturgi diawali dengan sapaan Imam, "Damai bagi semua," yang ditanggapi oleh umat dengan "dan juga bagi rohmu";

  1. §  Bacaan dari kitab para nabi dan para rasul, diikuti pembacaan Injil oleh Diakon, dilanjutkan dengan homili oleh Imam;

  1. §  Doa bagi ketekumen diikuti doa penitensi;

  1. §  Doa bagi para terbaptis, diikuti pembubaran para katekumen;

  1. §  Salam Damai;

  1. §  Persembahan (di bagian ini terdapat perubahan yang ditambahkan oleh St. Yohanes Krisostomos): koor mengiringi Imam saat membawa persembahan menuju Altar;

  1. §  Doa Persembahan. Disini St. Yohanes krisostomus mengkomposisi Doa Persembahan tersendiri yang merupakan ringkasan dari Doa Persembahan dalam Liturgi St. Basil;

  1. §  Doa Kuduslah Tuhan;

  1. §  Epiklesis;

  1. §  Litani kepada para kudus;

  1. §  Doa bagi mereka yang telah meninggal diikuti doa bagi umat;

  1. §  Doxology Agung;

  1. §  Doa Bapa Kami, diawali dengan litani singkat dan diakhiri dengan doxology;

  1. §  Salam Damai (lagi);

  1. §  Pengangkatan Hosti, diikuti Pemecahan Hosti dilanjutkan Komuni dua rupa dengan Darah Tuhan diminum dari piala;

  1. §  Doa sesudah komuni.
Saat ini, Liturgi St. Yohanes Krisostomus telah mengalami beberapa tambahan lagi selain dari yang disebutkan di atas. Liturgi St. Basil pun, yang masih digunakan saat ini, juga mengalami perubahan. Pemisahan antara liturgi bagi katekumen dan yang terbaptis diyakini tidak dilakukan oleh St. Basil, namun merupakan penambahan setelah St. Basil wafat.

Penutup

Liturgi yang digunakan dalam Gareja adalah liturgi yang hidup, yang terus mengalami modifikasi dan penyesuaian (3). Modifikasi dan penyesuaian ini dilakukan oleh gembala yang berwenang setelah melihat adanya bahaya bahwa umat akan meninggalkan liturgi karena keterbatasan alami manusia (misal: kepenatan dll). Dengan melakukan perubahan liturgi tersebut, dapat dilihat bahwa Gereja, dalam hal ini pihak yang berwenang, melakukan tugasnya sebagai gembala umat yang mengenal betul umat gembalaannya dan mengusahakan berbagai cara agar kawanan gembalaannya tersebut tidak tercerai-berai karena tidak kuat dengan tuntutan gembalanya yang mungkin melebihi keterbatasan sifat-sifat alami kawanannya.



............




(2). Proklius of Constantinople (... - 446) dalam "The Rite of Constantinople", http://www.newadvent.org/cathen/04312d.htm

(3). "The Rite of Constantinople", http://www.newadvent.org/cathen/04312d.htm

(4). "Liturgy of St. Basil", http://www.newadvent.org/cathen/02321a.htm


Monday, 10 September 2018

Karakteristik dari Gereja-gereja yang Skismatik


Source: https://upload.wikimedia.org


1. Rasa nasionalitas yang tinggi. Rasa bangga dan loyal terhadap suatu negara disamarkan dalam ajaran-ajaran theologi. Contoh: selama masa kekuasaan Turki di Timur Tengah, satu-satunya wadah bagi para jajahan Turki untuk berkelompok sesuai adat-istiadatnya adalah Gereja. Jadi mereka dari suku bangsa Armenia membentuk Gereja Armenia, suku bangsa Koptik membentuk Gereja Koptik, dsb. Dengan demikian, hampir mustahil terjadi konversi atau perpindahan umat misalnya dari Gereja Armenia ke Gereja Koptik karena masalah kebangsaan tersebut dan dengan demikian mereka saling terpisah satu sama lain.

2. Rasa konservatisme yang tinggi. Sejalan dengan rasa nasionalitas yang tinggi, maka dalam Gereja-gereja yang saling terpisah tadi muncul rasa konservatisme yang tinggi hingga ke detail-detail yang paling kecil seperti masalah bahasa. Contoh: Terjadinya skisma di Bulgaria dan Antiokia adalah karena mereka ingin agar para klerus dan juga bahasa liturgi yang digunakan sesuai dengan suku bangsa mereka.

Keterangan gambar: Gambar adalah mosaic pada Altar Gereja Dominus Flevit ("Tuhan menangis") di Yerusalem. Mosaic tersebut merujuk pada Lukas 13:34 "Yerusalem, Yerusalem.. Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau."


Saturday, 8 September 2018

Sang Sabda Mengosongkan Diri-Nya (Kenosis)




Source: https://upload.wikimedia.org/

(Fil 2:6-7)

Menurut modern heresy [1]:

- Segala atribut keilahian Kristus ditanggalkan secara sukarela;
- Segala atribut keilahian itu tersembunyi selama Sabda menjadi manusia;
- Sabda membatasi keberadaan dan aktivitas ilahinya;
- Kehendak ilahi (Divine ego) diubah menjadi kehendak manusiawi (human ego);
- Bukan Sang Sabda yang mengosongkan diri, tetapi Sabda yang telah menjadi daging.

Ajaran Katolik :
- Sabda merendahkan dirinya untuk mengalami kelemahan manusia [2];
- Perendahan diri secara sukarela ini memungkinkan-Nya mengalami segala kelemahan fisik dan jiwa manusiawi kecuali dalam hal berikut : ketidakteraturan kehendak dan kecenderungan berbuat dosa. Sabda tidak dapat mengalami itu karena bertentangan dengan kekudusan-Nya [3];

Kesimpulan :
- Pemahaman 'kenosis' pada Fil 2:6-7 jangan sampai jatuh pada Monophysitisme (hanya ada satu kodrat dalam diri Kristus) [4];
- Allah tidak dapat berhenti menjadi Allah dalam diri Kristus [5];
- Kata kunci pemahaman 'kenosis' Fil 2:6-7 ada pada Fil 2:8 : '..Ia merendahkan diri-Nya..' [6].

Sumber :
[1] St. Paul; http://newadvent.org/cathen/11567b.htm ;
[2] Kenosis;
[3] ibid.;
[4] St. Paul; http://newadvent.org/cathen/11567b.htm ;
[5] Jesus Christ Emptied Himself; http://www.vatican.va/holy_father/john_paul_ii/audiences/alpha/data/aud19880217en.html ;
[6] ibid.